May 11th, 2018

Pijakan Memahami Paradikma Keilmuan Islam

Munculnya pioner-pioner modern di belahan dunia Islam dalam memperjuangkan keilmuan islami perlu di berikan ’applause’ dan ’appreciacy’. Paling tidak pemikiran menuju Tuhan semakin melangkah maju ke arah pencapaian ’Hasanah’. Akan tetapi, kalau dilihat dari perkembangan pemikiran dalam keilmuan yang berkaitan dengan basis cara berpikir maka penomena tersebut bisa dijelaskan dalam bentuk kuadran antara aksis horizontal Rational dan Hidayah, dan aksis vertikal: Intepretifis dan Strukturalis, dengan bentuk diagram sbb: Keep reading →

>

May 11th, 2018

Kendala Keilmuan Berbasis Hidayah

Bisakah kita memancang tonggak sejarah bahwa umat Islam memulai awal abad ini sebagai abad kebangkitan science dan social science Islami? Bisakah kita melanjutkan kejayaan Islam dalam bidang pengetahuan seperti abad 7 s/d abad 13 (jaman keemasan Islam dibawah bani abassiyah), ketika kita sadar tekanan hebat pihak sekuler barat demikian hebatnya dan kita teraniaya karena kebodohan pikir? Saya yakin bahwa kita bisa. Perjuangan mencapai puncak pengetahuan pasti akan menghadapi ganjalan-ganjalan dari berbagai pihak yang berseberangan kepentingan. Kita ambil contoh ketika Bani Abassiyah berkuasa. Pada saat itu bukan berarti debat aliran tidak timbul. Ada dua aliran yang menonjol melakukan dialektika yaitu aliran mu'tazilah dan aliran jabariyah. Mereka bukan hidup berdampingan secara tentram, tetapi sering mengkritisi secara tajam, bahkan benturannya membuat memar bagi yang tidak didukung oleh penguasa. Keep reading →

>

May 11th, 2018

Paradigma keilmuan Berbasis Guided-Rational/Hidayah-Rational

Pada dasarnya semangat mengkaji ilmu dengan wacana Islami adalah penyerahan diri total kepada sang Pencipta (Allah SWT) karena segala sesuatu adalah diciptakan dan dimiliki oleh Allah SWT Jagat raya 'ada' karena 'ada' penciptanya. Manusia diciptakan semata-mata untuk mengabdi kepadaNYA. Supaya tidak tersesat, Allah SWT memberikan petunjuk dengan kitabNYA. Untuk mengetahui sesuatu, manusia harus mengacu pada 'qalamNYA' supaya sesuai dengan 'qodratNYA'. Karena itu, ilmuan muslim mengkaji 'ilmu' didasarkan pada semangat beribadah kepadaNYA dengan mengacu pada 'QALAMNYA'. Kata 'Qalam' ini sangat penting karena mengandung arti 'tidak boleh tidak' bahwa acuan ilmu Islami harus 'wahyu Allah SWT'. Disinilah perbedaan kita dengan ilmu sekuler barat (western), pendekatan kita adalah idealisme yang bersifat transedental terhadap sesuatu yang tidak nampak. Boleh saja orang mengatakan bahwa pendekatan kita adalah pendekatan Plato, karena platolah dalam filsafat yunani kuno yang mengajarkan pendekatan transedental tersebut, namun tentu saja bentuknya berbeda karena kita transedental terhadap 'wahyu' Allah SWT. yang kebenarannya mutlak.  Keep reading →

>

May 11th, 2018

Paradigma keilmuan Berbasis Sekuler-Rational

Pada dasarnya watak ilmu dengan paradikma keilmuan berbasis Sekuler-Rational (baca: Knowledge based Secularism) adalah upaya penaklukan jagat raya dengan menggunakan pendekatan empirism. Pendekatan ini yang mengajarkan pertama kali adalah filosof yunani kuno Aristoteles. Pendekatan empirism ini melihat jagat raya hanya pada sisi contentnya dan mengabaikan sisi formnya (lihat Immanuel Kant), mereka melihat isi dari jagat raya ini sebagai sesuatu yang sudah ada (tidak ada lagi kekuatan dibalik itu) dan tunduk pada hukum alam. Untuk mengetahui isi jagat raya tersebut dan bagaimana hubungannya dengan manusia, ilmu barat menekankan pada rasio manusia dan menghilangkan rasa manusia yang (sebenarnya) akan memunculkan estetika dan etika.  Keep reading →

>